Pengantar Ekologi

KONSEP EKOLOGI DAN EKOSISTEM
Dalam berbagai kegiatan pembangunan negara serta bangsa Indonesia tampak bahwa ekologi sebagai ilmu sekarang ini konsepnya sudah banyak diterapkan, misalnya konsep pelestarian segala macam sumber daya alam, konsep perlindungan plasma nutfah, pengendalian kelahiran dalam program keluarga berencana pada populasi manusia, konsep penanganan ekosistem, hasil maksimal yang berkelanjutan, konsep penanganan permasalahan daerah liran sungai, konsep perlindungan terhadap ekosistem mangrove, dan lain sebagainya. Konsep ekologi berperan demikian penting pada masa sekarang, sehingga konsep serta dasar ekologi perlu ditunjukkan sedini mungkin serta disebarluaskan ke segenap lapisan masyarakat.
Ekologi sebagian besar berkepentingan dengan populasi dan komunitas. Populasi dalam ekologi, aslinya diartikan sebagai kelompok orang, lalu diperluas menjadi kelompok-kelompok makhluk yang manapun. Dengan istilah Komunitas (kadang-kadang disebut sebagai “komunitas biotik”), dimaksudkan meliputi semua populasi yang berdiam di suatu daerah tertentu. Komunitas dengan lingkungan non-hayati berfungsi bersama sebagai suatu sistem ekologik atau ekosistem. Sistem biologik yang paling besar dan hampir dapat memenuhi kebutuhan sendiri disebut biosfer atau ekosfer. Gen merupakan anasir sel, sel menyusun jaringan, jaringan menyusun organ, organ menyusun organisme, organisme menyusun populasi, populasi merupakan anasir komunitas, komunitas menyusun ekosistem, dan ekosistem menyusun biosfer.
Banyak ilmuwan berbagai disiplin ilmu yang berlainan telah menggunakan hampiran melalui konsep ekosistem dalam memecahkan berbagai macam persoalan ekologi di laboratorium dan di lapangan atau di alam sesungguhnya. Menurut Odum (1983) dalam ekosistem yang majemuk seperti danau  dan hutan, dilaksanakan hampiran.
þ  Hologik (holos = keseluruhan) yaitu masukan dan keluaran diukur secara kolektif dan bersama dengan hal-hal yang muncul lalu dikaji, kemudian bagian-bagian anasir diteliti sesuai dengan yang diperlukan.
þ  Merologik (meros = bagian) yaitu bila bagian-bagian yang utama dikaji lebih dulu kemudian diwujudkan dalam keterpaduan sebagai suatu sistem utuh.

1.        Pengertian Ekologi

Ekologi meskipun masih tetap berakar dalam biologi tetapi sekrang ekologi rupanya berperan sebagai suatu disiplin ilmu yang menjembatani ilmu fisika yang eksakta dan ilmu sosial yang non-eksakta. Odum (1983) menuliskan bahwa ekologi sebelum tahun 1970 dipandang sebagai sub divisi biologi dan dipelajari melalui kurikulum biologi.
Semua sumber acuan menyebutkan bahwa ekologi berasal dari kata Yunani “oikos” yang berarti rumah tangga dan “logos” yang berarti ilmu. Odum (1971) menulis ekologi sebagai suatu kajian makhluk di tempat hidupnya. Selanjutnya ditulisnya bahwa ekologi seperti diartikan dalam kamus Webster’s Unabridged Dictionary sebagai totalitas atau pola hubungan antara makhluk dan lingkungan mereka.
Krebs (1978) menuliskan bahwa Ernst Haeckel pada tahun 1869 memberi takrif ekologi sebagai suatu hubungan keseluruhan antara makhluk hidup, dalam hal ini hewan dengan lingkungan organik dan an-organik. Ditulisnya juga bahwa Charles Elton (1972) dalam bukunya Animal Ecology memberi takrif ekologi sebagai sejarah alam secara ilmiah. Selanjutnya ditulisnya takrif ekologi yang jelas dan terbatas yang berbunyi bahwa ekologi adalah kajian ilmiah tentang agihan dan kelimpahan makhluk (Andrewartha, 1961). Lebih lanjut oleh Krebs (1978) ekologi diberi takrif sebagai kajian ilmiah tentang interaksi yang menentukan agihan dan kelimpahan makhluk. Eugene Odum (1971, 1983) memberi takrif ekologi ialah kajian tentang struktur dan fungsi alam.
Kendeigh (1980) memberikan takrif ekologi sebagai kajian tentang hewan dan tumbuhan dalam hubungannya antara satu makhluk yang satu dengan yang laindan antara makhluk dengan lingkungannya. Lingkungan dapat berupa lingkungan fisik atau lingkungan kimiawi, atau lingkungan hayati, jadi makhluk hidup berupa tumbuhan dan hewan dapat bertindak sebagai lingkungan bagi makhluk lain. Darnel (1971) menulis bahwa ekologi ialah ilmu yang berkaitan dengan tanggapan makhluk. Tanggapan makhluk dapat secara sendiri-sendiri dan dapat dalam kelompok, terhadap faktor lingkungan yang bertindak secara tunggal atau bersama-sama. Ekologi berkenaan dengan cara-cara makhluk merubah lingkungannya dan cara makhluk-makhluk itu menyesuaikan diri mereka sendiri.
Ekologi ialah ilmu tentang interaksi antara memberi dan menerima, antara stimulus dan tanggapan, antara stimulasi dan umpan balik. Interaksi disini mengandung unsur korelasi antara ubahan satu dengan ubahan lain, misalnya salinitas sebagai salah satu ubahan dapat menentukan populasi udang, tetapi udang sebagai ubahan tidak mesti dapat mempengaruhi salinitas. Populasi hama wereng sebagai salah satu ubahan terpengaruh oleh populasi tanaman padi, ialah jika tanaman padi populasinya nol alias tidak ditanam maka populasi hama wereng menjadi nol juga. Sebaliknya populasi tanaman padi dipengaruhi juga oleh populasi hama wereng yaitu jika populasi hama wereng sangat besar maka populasi tanaman padi dapat menjadi nol.

2. Pengertian ekosistem
Apabila ekologi melibatkan energi dan siklus kimia, maka ekosistem meliputi faktor-faktor abiotik dan komunitas. Ekosistem merupakan hubungan timbal balik antara suatu komunitas dengan lingkungan fisiknya sehingga ekosistem meliputi komponen biotik dan abiotik yang terdapat di suatu area. Proses aliran energi dan perputaran materi kimia sangat berhubungan dengan tingkatan dari suatu ekosistem. Sebagai suatu konsep dalam ekologi, maka ekosistem masih dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai sistem biologik yang terdiri atas :
þ  Anasir non biotik, misalnya cahaya matahari, tanah, air, dan udara.
þ  Anasir biotik, yang terdiri atas makhluk hidup yang dibedakan menjadi makhluk hidup yang autotrof serta yang heterotrof.
Ekosistem emrupakan suatu istilah yang diusulkan oleh A.G. Tansley (1935, seperti yang termuat dalam berbagai buku acuan antara lain Miller 1982, Krebs 1978, Kendeigh 1980, Odum 1971, Odum 1975, dan lain sebagainya) sering juga disebut sebagai sistem ekologik yang secara diagramatik dapat disebut sebagai kumpulan komunitas, sedangkan komunitas adalah kumpulan populasi.
Ekosistem adalah suatu sistem yang terbuka, yaitu suatu sistem yang menerima masukan dan menghasilkan keluaran, dapat juga disebut sebagai lingkungan masukan dan lingkungan keluaran yang tergabung dan penting untuk ekosistem dalam berfungsi dan memelihara ekosistem itu sendiri. Masukan dan keluaran itu dapat berupa energi, materi, atau makhluk hidup yang imigrasi dan emigrasi.

3.        Unsur penyusun ekosistem

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa di dalam ekosistem terdapat anasir biotik yang berujud makhluk hidup yang dibedakan menjadi makhluk yang autotrof dan heterotrof. Makhluk autotrof yang disebut juga sebagai produsen ialah makhluk tumbuhan hijau yang mampu menghasilkan bahan makanan berupa bahan organik dari bahan anorganik sederhana, oleh pertolongan sinar matahari. Peristiwa ini disebut juga fotosintesis. Sekarang yang tergolong ke dalam makhluk autotrof adalah juga makhluk yang yang mampu melaksanakan kemosintesis.
Makhluk heterotrof yang juga disebut konsumen, dan dibedakan menjadi makrokonsumen  serat mikrokonsumen. Makrokonsumen disebut juga makhluk fagotrof dan umumnya adalah hewan yang makan makhluk lain atau butiran-butiran bahan organik, misalnya sebagai contoh anatara lain sapi, kuda, anjing, harimau, gajah, ikan, burung, ular, cumi-cumi, kepiting dan lain sebagainya.
Mikrokonsumen yang juga disebut pengurai atau makhluk heteretrof yang osmotrof, disebut juga sebagai saprotrof. Pengurai ini teruatama adalah bakteria dan fungi yang memperoleh energi dengan cara menguraikan jaringan mati atau dengan mengabsorpsi bahan organik terlarut yang terekstrak dari tumbuhan atau makhluk lain.
Antara komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi. Interaksi ini menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem. Komponen penyusun ekosistem adalah produsen (tumbuhan hijau), konsumen (herbivora, karnivora, dan omnivora), dan dekomposer/pengurai (mikroorganisme).
Faktor Abiotik
Faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor fisik utama yang mempengaruhi ekosistem adalah sebagai berikut.
a. Suhu
Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu.
b. Sinar matahari
Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis.
c. Air
Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji; bagi hewan dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain, misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk.
d. Tanah
Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan.
e. Ketinggian
Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat tersebut, karena ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang berbeda.
f. Angin
Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam penyebaran biji tumbuhan tertentu.
g. Garis lintang
Garis lintang yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan yang berbeda pula. Garis lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi organisme di permukaan bumi. Ada organisme yang mampu hidup pada garis lintang tertentu saja.

POPULASI
Populasi ditakrifkan sebagai suatu kumpulan kelompok makhluk yang sama spesies (atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik), yang mendiami suatu ruang khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu dalam kelompok itu (Odum 1971). Taxonomiwan menggunakan istilah populasi untuk suatu kumpulan setempat individu yang sedikit berbeda dari kumpulan setempat lain pada spesies yang sama (Keindeigh 1980). Suatu populasi dapat juga ditakrifkan sebagai suatu kelompok makhluk yang sama spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus (Krebs 1978). Populasi dapat dibagi menjadi deme, atau populasi setempat, kelompok-kelompok yang dapat saling membuahi, satuan kolektif terkecil populasi hewan atau tumbuhan.

4.      Pertumbuhan Populasi

Populasi adalah suatu kesatuan yang selalu berubah dan yang menarik perhatian adalah bukan hanya perubahan dalam ukuran besarnya dan komposisinya pada saat yang manapun, tetapi juga bagaimanakah populasi itu berubah. Ada beberapa karakteristik populasi yang berhubungan dengan istilah laju, yang diperoleh dengan membagi perubahan dengan periode waktu berlangsungnya perubahan. Jadi laju menunjukkan kecepatan sesuatu berubah dalam satuan waktu. Cacah kelahiran per tahun adalah kelahiran. Istilah “per” berarti “dibagi oleh”. Untuk rerata perubahan populasi dapat dinyatakan dengan notasi baku delta N per delta t, dengan keterangan N = ukuran besarnya populasi (atau ukuran lain untuk kepentingan), sedangkan t = waktu. Notasi untuk laju sesaat adalah dN/dt.

a.    Pertumbuhan exponensial

Populasi-populasi memiliki pola-pola pertambahan yang disebut bentuk pertumbuhan populasi. Ada dua pola dasar pertumbuhan populasi yang didasarkan atas bentuk kurva pertumbuhan hasil pengeplotan secara aritmatik, ialah bentuk pertumbuhan exponensial yang seperti huruf J dan bentuk pertumbuhan sigmoid atau yang seperti huruf S. dua tipe ini dapat digabungkan atau dimodifikasikan, atau dua-duanya ialah digabungkan dan dimodifikasikan dalam berbagai cara menurut kekhususan berbagai makhluk dan lingkungan.
Dalam pertumbuhan yang berbentuk seperti huruf J kerapatan bertambah dengan cepat secara exponensial dan kemudian berhenti mendadak ketika perlawanan lingkungan dan faktor-faktor pembatas mulai berlaku mendadak. Bentuk ini dapat diwujudkan dalam persamaan :
dN/dt = r  *  N dengan batas tertentu terhadap N

b.   Pertumbuhan sigmoid

Dalam pertumbuhan populasi yang berbentuk sigmoid proses pertambahannya terjadi lambat pada awalnya, disebut fase percepatan positif. Kemudian proses pertambahan itu berlangsung lebih cepat barangkali mendekati fase logaritmik, tetapi akan segera berkurang kecepatannya lambat-laun karena perlawanan lingkungan secara persentase bertambah, pada bagian ini disebut percepatan negatif, sehingga dicapai suatu aras keseimbangan dan fase ini dipertahankan. Bentuk ini diwujudkan dalam model sederhana yang juga disebut persamaan logistik sebagai berikut :
dN/dt = r  *  N  *  [(K-N) / K]
tetapan K adalah asimtot atas kurva sigmoid, dan disebut sebagai daya dukung. Dalam pertumbuhan populasi berbentuk seperti huruf J mungkin tidak ada aras keseimbangan, tetapi batas terhadap N merupakan batas atas yang dikenakan oleh lingkungan.
Dinamika PopulasiClapham (1983) menyebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan dinamika populasi adalah ilmu yang mempelajari pertumbuhan serta pengaturan populasi. Suatu tegangan terdapat di antara kecenderungan suatu populasi untuk tumbuh dan batas terhadap pertumbuhan tersebut yang ditentukan oleh lingkungan.
Pertumbuhan populasi bersangkutpaut dengan konsep laju natalitas dan laju mortalitas, yang disebut sebagai laju vital populasi. Dan bersangkutan juga dengan kerapatan atau cacah individu di dalam populasi. Berikut ini adalah yang disebut laju kasar natalitas, laju kasar mortalitas dan laju kasar pertumbuhan.
Laju natalitas (b)        = cacah kelahiran persatuan waktu/ rerata populasi
Laju mortalitas (d)     = cacah kematian persatuan waktu/ rerata populasi
Laju pertumbuhan    = (cacah yg lahir) – (cacah yg mati)/ rerata populasi dlm selang waktu
EKO-ENERGITIKA
Energetika diterjemahkan dari ergenetics yang dalam kamus Webster’s Seventh New Collegiate Dictionary berarti cabang ilmu mekanika yang berkaitan dengan energi dan trasformasinya. Eko-energetika ialah bidang ekologi yang memperbincangkan terutama tentang peran energi dan transformasinya dalam ekologi. Begon dkk (1990) menuliskan bahwa semua mkhluk yang hidup memerlukan bahan untuk membentuk tubuhnya dan memerlukan energi untuk semua aktivitasnya. Tubuh makhluk tumbuhan dan hewan di dalam suatu satuan luasan merupakan suatu biomassa yang merupakan ‘standing crop”. Adapun yang dimaksudkan dengan biomassa ialah massa makhluk per satuan luasan tanah atau perairan dan biasanya dinyatakan dalam satuan energi (misalnya joule m-2) atau bahan organik kering (mislnya ton ha-1). Sebagian besar bimassa dalam komunitas hampir selalu terbentuk oleh tumbuhan, dan tumbuhan merupakan produsen primer biomassa oleh sebab kemampuan tumbuhan yang hampir unik untuk menambat carbon dalam fotosintesis. Disini memang harus disebut “hampir unik” oleh karena fotosintesis dan kemosintesis bakterial dapat juga berperan dalam pembentukan biomassa baru yang walaupun biasanya tidak begitu bermakna.
Piramida dan Rantai Makanan
Piramida makanan menunjukkan aliran energi dan kimia melewati berbagai macam tingkatan. Produsen primer bersifat autotrof yang biasanya menggunakan energi matahari untuk proses fotosintesis gula yang digunakan sebagai bahan bakan pada proses respirasi dan  materi penyusun tubuh untuk senyawa organik lain. Konsumen primer adalah herbivora yang makan tumbuhan dan algae. Konsumen sekunder adalah karnivora yang memangsa herbivora. Sedangkan konsumen tersier adalah pemangsa karnivora yang lain. Detrivor memangsa sisa-sisa senyawa organik dan organisme-organisme  yang telah mati.
Tumbuhan adalah produsen utama dalam ekosistem terestrial, sedangkan protista fotosintetik dan cyanobacteria merupakan produsen pada ekosistem perairan. Kemosintetik pada bakteri terjadi di area lautan yang dapat dijangkau panas (tidak bergantung pada energi cahaya). Fungi dan bakteri adalah dekomposer yang paling penting pada kebanyakan ekosistem. Cacing tanah, kecoa, udang dan lain-lain juga merupakan dekomposer.
Rantai makanan menunjukkan transfer makanan dari berbagai tingkatan dalam piramida makanan. Omnivora memangsa berbagai tingkatan dalam piramida makanan. Hampir semua ekosistem mempunyai rantai dengan percabangan yang sangat kompleks sehingga disebut jaring-jaring makaan
Aliran Energi
Kurang dari 1% sinar matahari dapat diserap tumbuhan untuk proses fotosintesis. Walaupun demikian fotosintesis di dunia ini menghasilkan kira-kira 170 bilion ton/tahun materi organik. Masing-masing ekosistem memiliki produktivitas yang tidak sama. Kecepatan konservasi dari energi cahaya menjadi energi kimia dalam suatu ekosistem disebut produktivitas primer. Produktivitas primer bersih (NPP = net primer productivity) adalah produktivitas kasar (GPP = gross primer productivity) dikurangi jumlah energi yang digunakan tumbuhan dalam respirasi selulernya. Pada kebanyakan tumbuhan, 50% – 90% dari GPP masih tinggal sebagai NPP. GPP dapat diukur di habitat perairan dengan cara membandingkan konsentrasi oksigen dalam inkubasi botol gelap dan transparan. Pada botol gelap hanya terjadi respirasi, sedangkan pada botol transparan terjadi respirasi dan fotosintesis. Cara lain dengan menggunakan karbon radioaktif yang diinkorporasikan ke dalam plankton. Produktivitas primer dapat dirumuskan sebagai energi/unit area/unit waktu (kcal/m2/th) atau dalam biomas (g/m2/th).
Hutan hujan tropis merupakan ekosistem yang produktif. Produktivitas dalam lingkungan terestrial dipengaruhi oleh endapan, panas, intensitas cahaya, panjang musim, kandungan mineral, dan suplai karbondioksida. Produktivitas di laut lebih besar di laut yang sempit dibandingkan dengan laut terbuka karena kandungan mineral di dekat permukaan dimana adanya sinar matahari sangat terbatas. Sementara produktivitas dalam ekosistem air tawar dipengaruhi oleh intensitas cahaya, temperatur, dan ketersediaan mineral.
Komponen penyusun ekosistem
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktora biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Faktor Biotik
Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer.

Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistemyang menunjukkan kesatuan.

A. Individu
Individu merupakan organisme tunggal seperti : seekor tikus, seekor kucing, sebatang pohon jambu, sebatang pohon kelapa, dan seorang manusia. Dalam mempertahankan hidup, seti jenis dihadapkan pada masalah-masalah hidup yang kritis. Misalnya, seekor hewan harus mendapatkan makanan, mempertahankan diri terhadap musuh alaminya, serta memelihara anaknya. Untuk mengatasi masalah tersebut, organisme harus memiliki struktur khusus seperti : duri, sayap, kantung, atau tanduk. Hewan juga memperlihatkan tingkah laku tertentu, seperti membuat sarang atau melakukan migrasi yang jauh untuk mencari makanan. Struktur dan tingkah laku demikian disebut adaptasi. Perhatikan Gambar 6.4.
ADAPTASI
Ada bermacam-macam adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya, yaitu: adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku.
1. Adaptasi morfologi
Adaptasi morfologi merupakan penyesuaian bentuk tubuh untuk kelangsungan hidupnya. Contoh adaptasi morfologi, antara lain sebagai berikut.
a. Gigi-gigi khusus
Gigi hewan karnivora atau pemakan daging beradaptasi menjadi empat gigi taring besar dan runcing untuk menangkap mangsa, serta gigi geraham dengan ujung pemotong yang tajam untuk mencabik-cabik mangsanya. Lihat Gambar 6.5.
b. Moncong
Trenggiling besar adalah hewan menyusui yang hidup di hutan rimba Amerika Tengah dan Selatan. Makanan trenggiling adalah semut, rayap, dan serangga lain yang merayap. Hewan ini mempunyai moncong panjang dengan ujung mulut kecil tak bergigi dengan lubang berbentuk celah kecil untuk mengisap semut dari sarangnya. Hewan ini mempunyai lidah panjang dan bergetah yangdapat dijulurkan jauh keluar mulut untuk menangkap serangga. Lihat Gambar 6.6.
c. Paruh
Elang memiliki paruh yang kuat dengan rahang atas yang melengkung dan ujungnya tajam. Fungsi paruh untuk mencengkeram korbannya. Perhatikan Gambar 6.7
d. Daun
Tumbuhan insektivora (tumbuhan pemakan serangga), misalnya kantong semar, memiliki daun yang berbentuk piala dengan permukaan dalam yang licin sehingga dapat menggelincirkan serangga yang hinggap. Dengan enzim yang dimiliki tumbuhan insektivora, serangga tersebut akan dilumatkan, sehingga tumbuhan ini memperoleh unsur yang diperlukan.
e. Akar
Akar tumbuhan gurun kuat dan panjang,berfungsi untuk menyerap air yang terdapat jauh di dalam tanah. Sedangkan akar hawa pada tumbuhan bakau untuk bernapas. (LihatGambar 6.9).
2. Adaptasi fsiologi
Adaptasi fisiologi merupakan penyesuaian fungsi fisiologi tubuh untuk mempertahankan hidupnya. Contohnya adalah sebagai berikut.
a. Kelenjar bau
Musang dapat mensekresikan bau busukdengan cara menyemprotkan cairan melalui sisi lubang dubur. Sekret tersebut berfungsi untuk menghindarkan diri dari musuhnya.
b. Kantong tinta
Cumi-cumi dan gurita memiliki kantong tinta yang berisi cairan hitam. Bila musuh datang, tinta disemprotkan ke dalam air sekitarnya sehingga musuh tidak dapat melihat kedudukan cumi-cumi dan gurita. (LihatGambar 6.1 0).
c. Mimikri pada kadal
Kulit kadal dapat berubah warna karena pigmen yang dikandungnya. Perubahan warna ini dipengaruhi oleh faktor dalam berupa hormon dan faktor luar berupa suhu serta keadaan sekitarnya. Lihat Gambar 6.11.
3. Adaptasi tingkah laku
Adaptasi tingkah laku merupakan adaptasi yang didasarkan pada tingkah laku. Contohnya sebagai berikut :
a. Pura-pura tidur atau mati
Beberapa hewan berpura-pura tidur atau mati, misalnya tupai Virginia. Hewan ini sering berbaring tidak berdaya dengan mata tertutup bila didekati seekor anjing.
b. Migrasi
Ikan salem raja di Amerika Utara melakukan migrasi untuk mencari tempat yang sesuai untuk bertelur. Ikan ini hidup di laut. Setiap tahun, ikan salem dewasa yang berumur empat sampai tujuh tahun berkumpul di teluk disepanjang Pantai Barat Amerika Utara untuk menuju ke sungai. Saat di sungai, ikan salem jantan mengeluarkan sperma di atas telur-telur ikan betinanya. Setelah itu ikan dewasa biasanya mati. Telur yang telah menetas untuk sementara tinggal di air tawar. Setelah menjadi lebih besar mereka bergerak ke bagian hilir dan akhirnya ke laut.
Populasi
Kumpulan individu sejenis yang hidup pada suatu daerah dan waktu tertentu disebut populasi Misalnya, populasi pohon kelapa dikelurahan Tegakan pada tahun 1989 berjumlah 2552 batang.
Ukuran populasi berubah sepanjang waktu. Perubahan ukuran dalam populasi ini disebut dinamika populasi. Perubahan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus perubahan jumlah dibagi waktu. Hasilnya adalah kecepatan perubahan dalam populasi. Misalnya, tahun 1980 populasi Pinus di Tawangmangu ada 700 batang. Kemudian pada tahun 1990 dihitung lagi ada 500 batang pohon Pinus. Dari fakta tersebut kita lihat bahwa selama 10 tahun terjadi pengurangan pohon pinus sebanyak 200 batang pohon. Untuk mengetahui kecepatan perubahan maka kita membagi jumlah batang pohon yangberkurang dengan lamanya waktu perubahan terjadi :
700 – 500 = 200batang
1990-1980 10 tahun         = 20 batang/tahun
Dari rumus hitungan di atas kita dapatkan kesimpulan bahwa rata-rata berkurangnya pohon tiap tahun adalah 20 batang. Akan tetapi, perlu diingat bahwa penyebab kecepatan rata-rata dinamika populasi ada berbagai hal. Dari alam mungkin disebabkan oleh bencana alam, kebakaran, serangan penyakit, sedangkan dari manusia misalnya karena tebang pilih. Namun, pada dasarnya populasi mempunyai karakteristik yang khas untuk kelompoknya yang tidak dimiliki oleh masing-masing individu anggotanya. Karakteristik iniantara lain : kepadatan (densitas), laju kelahiran (natalitas), laju kematian (mortalitas), potensi biotik, penyebaran umur, dan bentuk pertumbuhan. Natalitas danmortalitas merupakan penentu utama pertumbuhan populasi.
Dinamika populasi dapat juga disebabkan imigrasi dan emigrasi. Hal ini khusus untuk organisme yang dapat bergerak, misalnyahewan dan manusia. Imigrasi adalahperpindahan satu atau lebih organisme kedaerah lain atau peristiwa didatanginya suatu daerah oleh satu atau lebih organisme; didaerah yang didatangi sudah terdapat kelompok dari jenisnya. Imigrasi ini akan meningkatkan populasi.
Emigrasi adalah peristiwa ditinggalkannya suatu daerah oleh satu atau lebih organisme, sehingga populasi akan menurun. Secara garis besar, imigrasi dan natalitas akan meningkatkan jumlah populasi, sedangkan mortalitas dan emigrasi akan menurunkan jumlah populasi. Populasi hewan atau tumbuhan dapat berubah, namun perubahan tidak selalu menyolok. Pertambahan atau penurunan populasi dapat menyolok bila ada gangguan drastis dari lingkungannya, misalnya adanya penyakit, bencana alam, dan wabah hama.
Komunitas
Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi.
Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya.
 
Interaksi Antar Komponen
Interaksi antarkomponen ekologi dapatmerupakan interaksi antarorganisme,antarpopulasi, dan antarkomunitas.
A. Interaksi antar organisme
Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak kita lihat di sekitar kita.
Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan ada yang kurang erat. Interaksi antarorganisme dapat dikategorikan sebagai berikut.
a. Netral
Hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak, disebut netral. Contohnya : antara capung dan sapi.
b. Predasi
Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa. Contoh : Singa dengan mangsanya, yaitu kijang, rusa,dan burung hantu dengan tikus.
c. Parasitisme
Parasitisme adalah hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, bilasalah satu organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari hospes/inangnya sehingga bersifat merugikan inangnya.
contoh : Plasmodium dengan manusia, Taeniasaginata dengan sapi, dan benalu dengan pohon inang. Perhatikan Gambar 6.15
d. Komensalisme
Komensalisme merupakan hubunganantara dua organisme yang berbeda spesies dalam bentuk kehidupan bersama untuk berbagi sumber makanan; salah satu spesies diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan. Contohnya anggrek dengan pohon yang ditumpanginya.
e. Mutualisme
Mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Contoh, bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar kacang-kacangan.
B. Interaksi Antarpopulasi
Antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi secara langsung atau tidak langsung dalam komunitasnya.Contoh interaksi antarpopulasi adalah sebagai berikut.
Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa.Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.
Kompetisi merupakan interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi kambing dengan populasi sapi di padang rumput.
C. Interaksi Antar Komunitas
Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya komunitas sawah dan sungai. Komunitas sawah disusun oleh bermacam-macam organisme, misalnya padi, belalang, burung, ular, dan gulma. Komunitas sungai terdiri dari ikan, ganggang, zooplankton, fitoplankton, dan dekomposer. Antara komunitas sungai dan sawah terjadi interaksi dalam bentuk peredaran nutrien dari air sungai ke sawah dan peredaran organisme hidup dari kedua komunitas tersebut.
Interaksi antarkomunitas cukup komplek karena tidak hanya melibatkan organisme, tapi juga aliran energi dan makanan. Interaksi antarkomunitas dapat kita amati, misalnya pada daur karbon. Daur karbon melibatkan ekosistem yang berbeda misalnya laut dan darat. Lihat Gambar 6.16.
D. Interaksi Antarkomponen Biotik dengan Abiotik
Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubunganantara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi.
Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru.
 
Perkembangan Ekosistem
Adanya perubahan-perubahan pada populasi mendorong perubahan pada komunitas. Perubahan-perubahan yang terjadi menyebabkan ekosistem berubah. Perubahan ekosistem akan berakhir setelah terjadi keseimbangan ekosistem. Keadaan ini merupakan klimaks dari ekosistem. Apabila pada kondisi seimbang datang gangguan dariluar, kesimbangan ini dapat berubah, dan perubahan yang terjadi akan selalu mendorong terbentuknya keseimbangan baru.
Rangkaian perubahan mulai dari ekosistem tanaman perintis sampai mencapai ekosistem klimaks disebut suksesi. Terjadinya suksesi dapat kita amati pada daerah yang baru saja mengalami letusan gunung berapi. Rangkaian suksesinya sebagai berikut.
Mula-mula daerah tersebut gersang dan tandus. Setelah beberapa saat tanah akan ditumbuhi oleh tumbuhan perintis, misalnya lumut kerak. Tumbuhan perintis ini akan menggemburkan tanah, sehingga tanah dapat ditumbuhi rumput-rumputan yang tahan kekeringan. Setelah rumput-rumput ini tumbuh dengan suburnya, tanah akan makin gembur karena akar-akar rumput dapat menembus dan melapukan tanah, juga karena rumput yang mati akan mengundang datangnya dekomposer (pengurai) untuk menguraikan sisa tumbuhan yang mati. Dengan semakin subur dan gemburnya tanah maka biji-biji semak yang terbawa dari luar daerah itu akan tumbuh, sehingga proses pelapukkan akan semakin banyak. Dengan makin gemburnya tanah, pohon-pohon akan mulai tumbuh. Kehadiran pohon-pohon akan mendesak kehidupan rumput dan semak sehingga akhirnya tanah akan didominasi oleh pepohonan. Sejalan dengan perubahan vegetasi, hewan-hewan yang menghuni daerah tersebut juga mengalami perubahan tergantung pada perubahan jenis vegetasi yang ada. Ada hewan yang datang dan ada hewan yang pergi. Komunitas klimaks yang terbentuk dapat berupa komunitas yang homogen, tapi dapat juga komunitas yang heterogen. Contoh komunitas klimaks homogen adalah hutan pinus, hutan jati. Contoh komunitas klimaks yang heterogen misalnya hutan hujan tropis.
Rantai makanan
Suatu organisme hidup akan selalu membutuhkan organisme lain dan lingkungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan lingkungannya sangat kompleks, bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik. Hubungan timbal balik antara unsur-unsur hayati dengan nonhayati membentuk sistem ekologi yang disebut ekosistem. Di dalam ekosistem terjadi rantai makanan, aliran energi, dan siklus biogeokimia.
Rantai makanan adalah pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan melalui sederetan organisme yang makan dan yang dimakan.
Para ilmuwan ekologi mengenal tiga macam rantai pokok, yaitu rantai pemangsa, rantai parasit, dan rantai saprofit.
1. Rantai Pemangsa
Rantai pemangsa landasan utamanya adalah tumbuhan hijau sebagai produsen. Rantai pemangsa dimulai dari hewan yang bersifat herbivora sebagai konsumen I, dilanjutkan dengan hewan karnivora yang memangsa herbivora sebagai konsumen ke-2 dan berakhir pada hewan pemangsa karnivora maupun herbivora sebagai konsumen ke-3.
2. Rantai Parasit
Rantai parasit dimulai dari organisme besar hingga organisme yang hidup sebagai parasit. Contoh organisme parasit antara lain cacing, bakteri, dan benalu.
3. Rantai Saprofit
Rantai saprofit dimulai dari organisme mati ke jasad pengurai. Misalnya jamur dan bakteri. Rantai-rantai di atas tidak berdiri sendiri tapi saling berkaitan satu dengan lainnya sehingga membentuk faring-faring makanan.
4. Rantai Makanan dan Tingkat Trofik
Salah satu cara suatu komunitas berinteraksi adalah dengan peristiwa makan dan dimakan, sehingga terjadi pemindahan energi, elemen kimia, dan komponen lain dari satu bentuk ke bentuk lain di sepanjang rantai makanan.
Organisme dalam kelompok ekologis yang terlibat dalam rantai makanan digolongkan dalam tingkat-tingkat trofik. Tingkat trofik tersusun dari seluruh organisme pada rantai makanan yang bernomor sama dalam tingkat memakan.
Sumber asal energi adalah matahari. Tumbuhan yang menghasilkan gula lewat proses fotosintesis hanya memakai energi matahari dan C02 dari udara. Oleh karena itu, tumbuhan tersebut digolongkan dalam tingkat trofik pertama. Hewan herbivora atau organisme yang memakan tumbuhan termasuk anggota tingkat trofik kedua. Karnivora yang secara langsung memakan herbivora termasuk tingkat trofik ketiga, sedangkan karnivora yang memakan karnivora di tingkat trofik tiga termasuk dalam anggota iingkat trofik keempat.
5. Piramida Ekologi
Struktur trofik pada ekosistem dapat disajikan dalam bentuk piramida ekologi. Ada 3 jenis piramida ekologi, yaitu piramida jumlah, piramida biomassa, dan piramida energi.
a. Piramida jumlah
Organisme dengan tingkat trofik masing – masing dapat disajikan dalam piramida jumlah, seperti kita Organisme di tingkat trofik pertama biasanya paling melimpah, sedangkan organisme di tingkat trofik kedua, ketiga, dan selanjutnya makin berkurang. Dapat dikatakan bahwa pada kebanyakan komunitas normal, jumlah tumbuhan selalu lebih banyak daripada organisme herbivora. Demikian pula jumlah herbivora selalu lebih banyak daripada jumlah karnivora tingkat 1. Kamivora tingkat 1 juga selalu lebih banyak daripada karnivora tingkat 2. Piramida jumlah ini di dasarkan atas jumlah organisme di tiap tingkat trofik.
b. Piramida biomassa
Seringkali piramida jumlah yang sederhana kurang membantu dalam memperagakan aliran energi dalam ekosistem. Penggambaran yang lebih realistik dapat disajikan dengan piramida biomassa. Biomassa adalah ukuran berat materi hidup di waktu tertentu. Untuk mengukur biomassa di tiap tingkat trofik maka rata-rata berat organisme di tiap tingkat harus diukur kemudian barulah jumlah organisme di tiap tingkat diperkirakan.
Piramida biomassa berfungsi menggambarkan perpaduan massa seluruh organisme di habitat tertentu, dan diukur dalam gram.
Untuk menghindari kerusakan habitat maka biasanya hanya diambil sedikit sampel dan diukur, kemudian total seluruh biomassa dihitung. Dengan pengukuran seperti ini akan didapat informasi yang lebih akurat tentang apa yang terjadi pada ekosistem.
c. Piramida energi
Seringkali piramida biomassa tidak selalu memberi informasi yang kita butuhkan tentang ekosistem tertentu. Lain dengan Piramida energi yang dibuat berdasarkan observasi yang dilakukan dalam waktu yang lama. Piramida energi mampu memberikan gambaran paling akurat tentang aliran energi dalam ekosistem.
Pada piramida energi terjadi penurunan sejumlah energi berturut-turut yang tersedia di tiap tingkat trofik. Berkurang-nya energi yang terjadi di setiap trofik terjadi karena hal-hal berikut.
1. Hanya sejumlah makanan tertentu yang ditangkap dan
dimakan oleh tingkat trofik selanjutnya.
2. Beberapa makanan yang dimakan tidak bisa dicemakan dan
dikeluarkan sebagai sampah.
3. Hanya sebagian makanan yang dicerna menjadi bagian dari
tubuh organisms, sedangkan sisanya digunakan sebagai
sumber energi

 

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

 

800×600

 

Normal
0

false
false
false

EN-GB
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

 

 

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s