Pascabentrok Lampung

Pascabentrok Lampung, banyak warga kehilangan anggota keluarga

Pascabentrok Lampung, banyak warga kehilangan anggota keluarga

Sejumlah tokoh adat dari Desa Balinuraga, Kecamatan Waypanji, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung menyebutkan jumlah warganya tewas akibat bentrokan mencapai 13 orang. Jumlah korban tewas warga Balinuraga itu, bertambah tiga orang dari informasi dan laporan sebelumnya yang mencapai 10 orang. Selain itu, masih banyak warga melapor kehilangan anggota keluarganya.

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Desa Balinuraga, Kecamatan Waypanji, Lampung Selatan, Made Sumite (49), merinci korban tewas yang dibawa ke rumah sakit sebanyak 10 orang warga setempat. Namun yang telah dikremasi pada Kamis (1/11), sebanyak sembilan orang, sedangkan satu korban lagi belum dikremasi karena masih ada bagian tubuhnya yang belum ditemukan.

Petugas di lapangan kembali menemukan tiga jasad warga Balinuraga di dalam sumur Dusun Sidorahayu, Desa Sidoreno tiga hari setelah bentrokan. “Kalau tidak salah hari Kamis (1/11) sore ditemukan lagi jasad tersebut, karena kami mendapatkan informasinya pada Jumat pagi terkait penemuan tiga mayat dalam sumur itu,” kata dia seperti dilansir dari antara.

Made menyebutkan, sesuai dengan jumlah warga yang tewas saat bentrokan mencapai 10 orang, dan sembilan di antaranya sudah dikremasi, ditambah tiga jasad lagi yang ditemukan di dalam sumur maka jumlahnya menjadi sebanyak 13 orang.

Pemangku adat Desa Balinuraga, Wayan Gambar, mengakui memang ia mendapatkan informasi telah ditemukan tiga jasad korban bentrokan di dalam sumur dan kemudian korban bentrokan ini telah dibawa ke rumah sakit.

Selain itu, masih banyak para keluarga korban yang melaporkan telah kehilangan kabar berita atas anggota keluarganya yang hingga kini masih belum kembali, kemungkinan mengungsi atau justru menjadi korban dalam kerusuhan itu.

“Kami harapkan situasi menjadi damai kembali seperti sediakala,” kata dia di hadapan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Anang Prihantoro asal Lampung, Kadek Arimbawa dari Bali, Budi Doku dari Gorontalo, dan Pardi dari Jakarta.

Pengurus PHDI Desa Napal, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Wayan Gunawan juga membenarkan bahwa jasad korban bentrokan itu yang sudah dikremasi sebanyak sembilan orang dari 10 jasad korban yang dibawa ke Bandarlampung.

Dia menyebutkan, sepuluh jasad korban tewas yang dikremasi di Lempasing, Bandarlampung, beberapa hari lalu, yakni Nyoman Sukarana atau Pan Malini, Pan Muri, Gede Semara Jaya, Wayan Kara, Pan Kara, Terat atau Ratminingsih alias Wayan Paing, Ketut Buder, Rusnadi alias Made Patis, Ketut Parta alias Pan Landri, dan satu jasad lagi belum diketahui identitasnya karena masih belum dikenali.

Berdasarkan keterangan tokoh adat itu, berarti jumlah korban tewas akibat bentrokan di Desa Balinuraga pada hari pertama (Minggu, 28/10) dan hari kedua (Senin, 29/10), mencapai 17 orang, yaitu korban warga Desa Balinuraga 13 orang, dan korban warga Kecamatan Kalianda sebanyak tiga orang, dan satu korban ini meninggal di rumah sakit.

Menurut Kapolres Lampung Selatan AKBP Tatar Nugroho menegaskan bahwa hingga saat ini pihaknya tidak menemukan lagi korban tewas tambahan akibat bentrokan itu yang ditemukan di dalam sumur tersebut. “Kalau petugas ada yang menemukan lagi jasad korban tewas itu, kami pasti mendapatkan informasinya dan melapor ke posko petugas,” kata dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s